MUI Sumatera Barat Lebih Tua Dari MUI Pusat

0
272

Khazanah — MUI Sumatera Barat sesungguhnya lebih tua atau lebih dahulu lahir dari MUI Pusat. MUI Sumbar berdiri pada bulan Mei 1968, sedangkan MUI Pusat baru berdiri tahun 1975. Bahkan lahirnya MUI Pusat tidak bisa dilepaskan dari MUI Sumbar ataupun ulama-ulama dari Sumbar.

Dalam musyawarah alim ulama se-Sumatera Barat tanggal 16-27 Mei 1968 di Bukittinggi, Datuk Palimo Kayo terpilih sebagai ketua umum Majelis Ulama Sumatera Barat. Ketika itu belum ada MUI atau Majlis Ulama Indonesia.
Dan perlu diingat bahwa pembentukan Majelis Ulama pada waktu itu murni berasal dari inisiatif para ulama yang merujuk kepada sejumlah fenomena sosial -agama umat yang dirasa dalam ancaman. Artinya tudak ada campur tangan pemerintah.

Pada Musyawarah Majlis Ulama Sumatera Barat II, ia kembali terpilih menjadi ketua umum.Oleh Buya Hamka, kiprah Majlis Ulama Sumatera Barat ini minta diperluas menjadi Majlis Ulama Indonesia.

Maka, pada waktu pembentukan MUI Pusat di Jakarta, pada tanggal 26 Juli hingga 2 Agustus 1975, selain dikukuhkan sebagai ketua umum MUI Sumatera Barat, ia juga diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat.
“Pada tahun 1968 itu terbentuklah Majelis Ulama Sumatera Barat dengan ketua Buya Dt. Palimo Kayo. Buya Hamka kemudian minta izin kepada Dt. Palimo Kayo dan ulama lainnya untuk membentuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Setelah mendapatkan izin, tahun 1975 resmi dibentuk MUI Pusat,”

Ketua MUI Sumbar yang Pertama adalah Haji Mansoer Datuak Palimo Kayo.

Singgalang hingga ke kakinya di Nagari Balingka, Agam, Sumatra Barat pagi itu. Syekh Daoed Rasjidi dan isteri yang tinggal di nagari itu, sedang berbahagia.

Hari tersebut, 17 Shafar 1321 Hijriyah atau bertepatan dengan 10 Maret 1905, putra dari pasangan itu lahir. Diberi nama Mansoer, kelak beliau bernama lengkap Mansoer Daoed (Mansur Daud) Datuak Palimo Kayo

Terlahir sebagai putra salah satu ulama besar Minangkabau, kelak Mansur meneruskan jejak ayahnya. Lebih dari itu, selain ulama, Buya Datuak juga kemudian berkiprah jadi politisi dan sempat menjadi diplomat ketika diangkat jadi duta besar.

Hari kelahiran Buya Haji MD Datuak Palimo Kayo tersebut, tepat 114 tahun yang lalu, Ahad (10/3/2019)

Buya datuk panggilan akrabnya menjalani pengalaman keulamaannya dalam berbagai belahan dunia dan medan perjuangan dakwah. Diawali dengan belajar dunia pesantren di ranah minang, ia kemudian menambah ilmu dengan melanglang buana ke banyak negeri hingga ke negeri Irak.

Di usia yang masih muda beliau juga aktif dalam kegiatan organisasi keislaman dan organisasi politik. Selama masa revolusi kemerdekaan beliau tidak ragu terlibat dalam bentrok fisik melawan kaum penjajah dan bahkan sempat dipenjara. Di era kemerdekaan beliau dipercaya pemerintah orde lama menjadi duta besar luar biasa dan berkuasa penuh Republik Indonesia untuk Negara Irak.

Namun kemasyhuran karir diplomatnya hanya sekejap saja, karena semuanya seakan menjadi anti klimaks ketika krisis PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) yang menjadi awal peran politik semua tokoh Masyumi seperti dirinya memudar. Peristiwa PRRI menjadi ending karir diplomatnya tetapi tidak bagi Buya dengan sosok keulamaannya. Ummat justru membutuhkan dan merindukan beliau di usianya yang mulai beranjak senja sebagai pemimpin umat. Hal ini tercermin dari sejarah penunjukan beliau sebagai Ketua Majelis Ulama Sumatera Barat pada tahun 1968 oleh para ulama lainnya yang akan dibahas pada edisi selanjutnya.

Riwayat Hidup Pendidikan dan Karir
Buya Haji Mansoer Daoed Dt. Palimo Kayo lahir di Balingka Pada Tanggal 17 Shafar 1321 H, bertepatan dengan tanggal 10 Maret 1905 di Pahambatan, Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Balingka adalah sebuah Nagari di kaki Gunung Marapi. Beliau putra dari seorang ulama besar Minangkabau yang dikenal dengan sebutan Inyiak Daud Rasyidi. Sebagai anak, Buya Haji Mansoer mendapat pengetahuan agama langsung dari sang ayah Syekh Daud Rasyidi. Tidak hanya Buya Haji Mansoer saja yang diberikan pengetahuan ilmu agama oleh sang ayah, melainkan semua anak-anaknya antara lain; Anah, Mansur, Miramah, Sa’diah, Makmur dan Afifah.

Sebagai anak seorang ulama, sejak kecil Buya Haji Mansoer Daoed sudah belajar mengaji. Tapi, ketika berumur tujuh tahun, tatkala fisiknya telah mulai berkembang dan telah duduk di kelas 1 “Vervolg School” (Sekolah Desa), ia terlihat begitu nakal, sehingga hampir setiap hari kena “lacuik” (pukul) dengan rotan oleh orang tuanya. Meskipun demikian, kelakuannya juga tak banyak berubah. Akhirnya Inyiak Daud merasa tak sampai hati mempergunakan rotan berkepanjangan. Sebab beliau menyadari, kalau sering betul anak kena lacuik dengan rotan tentulah ia akan rusak ketika dewasanya.

Lalu berundinglah Inyiak Daud dengan iparnya yang bernama Haji Hasan. Dari perundingan tersebut diambil keputusan bahwa Mansoer, harus ikut mamaknya ke Lubuk Sikaping, Pasaman, untuk berjualan di sana. Di Lubuk Sikaping, ia dimasukkan ke Government School, merupakan sekolah yang cukup tinggi bagi bumi putera waktu itu. Sebab sekolah desa (Vervolg School) hanya sampai kelas III. Sedangkan Government School sampai kelas V. Selama dua tahun di kota ini, yakni kelas II dan kelas III, kelakuannya tampak sudah semakin membaik. Sudah jauh berubah dibanding ketika di kampung dulu. Karena itu tahun 1916, yakni ketika berumur 11 tahun, ia pun dipindahkan oleh Inyiak Daud ke Padang Panjang. Paginya meneruskan pelajaran di kelas IV Government dan sorenya dimasukkan ke pesantren Sumatera Thawalib yang dipimpin sahabat sang ayah Syekh Abdul Karim Amrullah yang lebih populer dengan panggilan Inyiak Rasul (Ayah Buya Hamka).

Ketika itu Pesantren Thawalib sudah mulai agak teratur, sudah dibagi perkelas, tapi masih duduk bersila, yang menjadi ukuran kelasnya adalah kitab yang dipelajari. Bagi yang belajar kitab Mukhtasar disebut kelas Mukhtasar, bagi yang belajar kitab Kawakib disebut kelas Kawakib. Di sinilah buya Mansoer Daoed mengikuti pelajaran lebih sungguh-sungguh. Otaknya sangat cerdas. Meskipun di antara teman sekelasnya cukup banyak yang telah dewasa, malah ada yang sudah menikah, sudah punya anak dan punya cucu, sudah naik haji dengan surbannya yang besar, namun ia tak kalah cerdas dibandingkan teman-temannya.

Seringkali ia dipakai sebagai perbandingan oleh Inyiak Rasul. Beliau menyebutkan sebuah kalimat bahasa Arab, lalu ia berkata “coba I’rab-kan (coba kedudukan katanya) Mansur,” perintah gurunya. Mansoer Daoed menjawabnya dengan jitu. Kemudian guru menyebut kalimat lain dan memberi tugas kepada yang sudah pakai sorban atau yang sudah berumur. Sang haji yang pakai sorban itu tak dapat menjawabnya dengan betul. Maka tak ayal lagi gurunya akan berkata: “Ah, saroban se mah nan gadang. Malu lah saketek ka anak ketek”, (Ah, sorban saja yang besar. Malunya sedikit kayak anak kecil) Demikian kecerdasan beliau ketika belajar, ia pun menjadi kesayangan guru. Bukan saja karena cerdas otaknya, tapi karena pekertinya jauh semakin baik dibandingkan pada usia tujuh tahun yang sering kena rotan itu.
Ketika telah menamatkan Governement School dan hendak memasuki Normal School, yaitu satu-satunya sekolah calon guru pada waktu itu. Ia berhasil lulus pula dari testing yang diadakan sekolah itu. Tetapi ketika itu juga dilarang oleh ayah beliau dengan mengatakan:
“Sasek ang mah mansoer..indak kian jalan ang do”. (sesat kamu mansur, tidak ke sana jalan kamu).
Beliau mencoba menjelaskan dengan baik. Namun ketika diperintahkan oleh ayah beliau : “Taruih se lah mangaji mansoer…” (Terus saja kamu mengaji Mansyur) ia tidak membantah lagi. Padahal ia sudah lulus testing. Apalagi yang lulus itu tidak semua orang. Cukup sulit sekali waktu itu masuk Normal School. Tetapi karena kepatuhan kepada orang tua, beliau pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke Normal School. Kebetulan pula saat itu, di Padang Panjang tuan Zainuddin Labay El Yunusy membuka Madrasah Diniyah yang terkenal dengan sebutan “Diniyah School”, belajarnya pagi hari. Mansoer Daud pun masuk ke Diniyah School.

Selain waktu belajarnya yang berbeda, terlihat perbedaan arah pendidikan yang nyata antara Diniyah dengan Sumatera Thawalib. Thawalib cenderung kepada pembinaan kader ulama, sedangkan Diniyah cenderung kepada pembinaan Muslim intelek. Sebab di Diniyah diajarkan pelajaran-pelajaran yang kini disebut dengan pelajaran umum. Tetapi pada waktu itu tidak dinamakan pelajaran umum, semuanya dinamakan ilmu agama juga, karena seluruh mata pelajaran diberikan dengan memasuki buku dari Arab seperti Geografi (Ilmu Bumi), ilmu berhitung, ilmu hisab, tumbuh-tumbuhan, ilmu menulis, ilmu bahasa, dan ilmu-ilmu lainnya. Karena itu banyak anak-anak Thawalib belajar pagi di Diniyah, sedang sorenya tetap di Sumatera Thawalib yang punya masa belajar sampai kelas tujuh.

Dari sumber yang terpercaya, sebenarnya Sumatera Thawalib dan Diniyah inilah yang menempa pribadi beliau sebagai pemimpin dan ulama, demikian juga Thawalib yang menempa pribadi-pribadi pemimpin dan ulama besar seperti Buya Prof. Dr. Hamka, Prof. Muchtar Yahya, Prof. Mahmud Yunus, Zainal Abidin Ahmad, Buya Ar St. Mansur, dan tokoh ulama lainnya. Semula Thawalib hanya di Surau Jembatan Besi Padang Panjang, tetapi kemudian organisasi Thawalib menjalar ke seluruh surau murid-murid Syekh Ahmad Khatib Alminangkabauwy yang ada di Minangkabau. Sehingga surau-surau itupun menjelma menjadi Madrasah Thawalib, seperti Surau Syekh Muhammad Thaib Umar di Sungayang Batusangkar, Surau Syekh Abbas Padang-Japang (yang kemudian berubah lagi jadi Darul Funun), Syekh Muhammad Rasyid di panyinggahan Maninjau, Syekh Muhammad Rasyid adalah alim besar yang lebih tinggi ilmunya dari Syekh Abdul Karim Amrulah. Selain alim beliau juga bagak (jago) berkelahi. Sayang beliau tak lama usianya. Sesudah itu Thawalib terus menjalar ke Balingka ke Surau Inyiak Daud sendiri dan ketika surau Inyiak Daoed dihantam galodo, barulah kemudian ke Thawalib Parabek Bukittinggi.
Akhirnya dirasakan duduk bersila sudah terlalu kolot, diusahakanlah mendirikan gedung sekolah seperti sekarang tempatnya, masih di Jembatan Besi, yakni di belakang gedung Balai Kota Padang Panjang. Namun gedung di Jembatan Besi ini tak bisa bertahan lama, karena dihantam gempa tahun 1926 hingga hancur lebur. Sesudah gempa inilah di usahakan pembangunan gedung di belakang gedung Diniyah Puteri sekarang.

Ke Penang, India, Timur Tengah, Eropah Dan Tiongkok
Sebagai seorang anak muda yang cerdas, pemuda Mansoer Daoed tidak cepat puas dengan apa yang diperolehnya. Itulah sebabnya pada usia 18 tahun yakni setelah menyelesaikan pendidikan di Thawalib beliau melanglang buana meninggalkan Minangkabau, menuju Negara lain. Tiada emas berbungkal dan uang berpundi yang beliau terima sebagai bekal perjalanan panjang itu, kecuali keikhlasan hati orang tua melepas keberangkatan putera tersayang itu. Hanya semangat yang membaja dan tekad yang kuat lah modal utama.
Namun demikian, beliau tidak mau menyebut perjalanan panjang dalam mencari ilmu dan pengalaman itu sebagai perjalanan berdikari: “saya masih memanfaatkan nama orang tua”, tutur beliau (tatkala diwawancarai oleh Alirman Hamzah pada 1983, yang menjadi rujukan tulisan ini).
Memang, ayah beliau banyak dikenal orang, murid Inyiak Daoed tersebar ke segenap pelosok tanah air, malah sampai ke Semenanjung Malaya. Dari Bukittinggi pemuda Mansoer Daoed, melangkah ke Medan. Di sini disambut murid ayah beliau, lalu melanjutkan ke Penang, Malaysia. Di Penangpun ada sahabat ayah beliau, yaitu Syekh Thaher Jalaludin. Syekh Thaher mempunyai halaqah wirid yang jemaahnya sebagian besar adalah saudagar. Karena seringkali pemuda Mansoer Daud dibawa Syekh Thaher memberikan penngajian, maka suatu kali di antara murid beliau yang keturunan keling(India) sempat bertanya:
“Ini siapa engku?”
“Oh..ini anak sahabat saya dari Minangkabau”, jawab Syekh Thaher.
“Apa maksudnya ke sini engku?”
“Ia hendak terus ke India untuk belajar” jawab Syekh Thaher lagi (pada waktu itu India dan Pakistan belum lagi berbagi)
Lalu murid beliau itupun mengulurkan tangan; “kalau begitu baiklah, nanti saya urus, sebab saya punya adik yang tinggal di India”. Mendengar uluran tangan orang keling itu betapa suka-citanya hati Syekh Taher, karena dengan demikian ia telah membantu mewujudkan cita-cita dari anak sahabatnya.
Begitulah, dengan pertolongan orang Keling yang bernama Abdul Syatar Bey itu, Buya Datuk muda pun bertolak ke India dan bersekolah di Perguruan Islam Tinggi (Jamiah Islamiyah) Lucknow yang cukup terkenal di Dunia Islam Abdul Kalam Azad sebagai Pemimpin perguruan tersebut langsung jadi pengasuh sekaligus pengajarnya. Selanjutnya, Mansoer Daoed melanjutkan belajar agama pada Islamic College di Heyderabad, India. Dua bersaudara yang memimpin perguruan itu Maulana Syaukat Ali dan Maulana Muhammad Ali cukup dikenal, sehingga mereka dijuluki Two Brother oleh masyarakat. Serupa namanya, perguruan tinggi agama Islam yang mereka pimpin juga cukup dikenal oleh masyarakat, terbukti banyak murid yang datang dari luar India. Mansoer Daoed adalah salah seorang diantaranya dari India. Selain Lahore beliau sempat juga melawat ke tempat-tempat bersejarah India lainnya.

Selama hampir belajar tiga tahun di Perguruan Tinggi Lucknow India, beliau juga banyak mengikuti pergerakan perjuangan India yang waktu itu terbagi kedalam dua kelompok pergerakan.
Kelompok pertama yang dipimpin oleh orang Hindu dengan namaKongres India Party, atau Partai Kongres India di bawah kepemimpinan Mahatma Gandhi. Adapun kelompok kedua merupakan kelompok dari kalangan Islam dengan nama Partai Khalifah (yang berjuang menegakkan Khilafah), yang dipimpin oleh Maulanan Ali, Maulanan Syaukat Ali, dan Abdul Kalam Azad. Mereka tak lain para petinggi di sekolah di mana Buya Datuk menuntut ilmu. Gerakan kelompok Islam inilah yang sering diikuti oleh Buya Datuk, bahkan sering bergaul dengan tokoh-tokoh besar tersebut yang berlangsung antara tahun 1923 – 1925 di mana saat itu Buya Datuk masih berumur antara 18 – 20 tahun. Selama lebih kurang tiga tahun, Mansoer Daoed mengembara, menuntut ilmu di India.

Setelah tiga tahun di India, Buya Datuk kemudian pergi dan menetap selama beberapa waktu di Mekkah. Di kota suci ini beliau langsung belajar agama Islam dengan Syekh Abdul Kadir Al Mandily. Salah seorang Imam Masjidil Haram itulah yang mendidik Mansur Daud selama lebih kurang satu tahun. Tetapi, lantaran adanya perang saudara di Mekah kala itu, Mansur Daud terpaksa harus meniggalkan Mekkah sebelum waktunya.

Sebagaimana diketahui dalam sejarah bahwa Hijaz pada tahun-tahun menjelang 1925 tengah dilanda konflik perebutan kekuasan antar kelompok-kelompok yang bersaing di sana pasca runtuhnya kekuasaan Usmaniyah di tahun 1924. Dalam pergolakan tersebut kelopmpok yang dipimpin oleh Abdul Aziz bin Saud akhirnya berhasil mengalahkan pihak Syarif Husain yang berujung kepada lahirnya kerajaan Arab Saudi yang berhaluan Wahhabi pada tahun 1926.
Dari Mekkah beliau kemudian berkelana ke sejumlah negeri-negeri di Timur Tengah seperti Irak, Syria, Libanon, Mesir dan Turki. Setelah itu perjalanan dilanjutkan hingga ke sejumlah negara-negara Eropa. Usaha perjalanan beliau ini tidak lepas dari sejumlah tokoh yang mau membantu melakukan perjalanamn tersebut. Perjalanan Buya Datuk bergerak ke timur hingga ke Siberia, Rusia dan akhirnya sampai ke negeri tirai bambu, Tiongkok dan bermukim di Kanton (Guangdzou). Di kota Kanton beliau tinggal cukup lama. Dari Kanton, Buya Datuk melanjutkan perjalanan ke Hongkong, lalu ke Singapura dan akhirnya sampai kembali di Penang bertemu kembali dengan Syekh Taher Jalaluddin kembali.

Pada tahun 1929 atas saran Syekh Taher Jalaluddin, Buya Datuk pergi ke Yogyakarta untuk mempelajari dan sekaligus bergabung dalam gerakan Islam yang tengah berkembang di sana saat itu yakni Muhammadiyah.
Namun setahun kemudian di awal tahun 1930, tatkala usia 25 tahun, beliau kembali ke Minangkabau, setelah sekian lama melanglang buana meraih aneka ilmu dan pengalaman berharga di berbagai negeri di dunia dan nusantara. Kebetulan kepulangan Buya Datuk saat itu bersamaan dengan Sumatera Thawalib menyelenggarakan kongres di Bukittinggi antara tanggal 22 hingga 27 Mei 1930.

Dari Kongres Sumatera Thawalib tersebut berhasil melahirkan sebuah organisasi bernama Persatuan Muslim Indonesia (PMI). Pada awal terbentuknya, tidaklah ditegaskan sama sekali karakter atau corak pergerakan PMI ini. Namun dalam perjalanannya, organisasi ini cenderung ke arah politik. Ternyata, meskipun masih berusia muda Buya Datuk langsung dipercaya sebagai salah satu Pengurus Besar organisasi baru tersebut.

Pada Kongres pertama PMI di Payakumbuh pada Tanggal 5-9 Agustus 1930, beliau resmi ditunjuk sebagai Sekretaris Jendral (sekjen) PB PMI. Belakangan dalam kongres keduanya di Padang pada tahun 1931, PMI berubah menjadi partai politik dengan singkatan resmi Permi. Buya Datuk masih dipercaya sebagai sekjen partai tersebut. Maka mulailah aktivitas perpolitikan beliau dari organisasi yang dilahirkan perguruan Islam ini.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sebelum kemnbali ke Minangkabau, Buya Datuk, sempat belajar dan bergabung dalam organisasi Muhammadiyyah di Yogyakarta pada 1929-1930. Lalu tetkala pulang ke Bukittinggi pada 1930, Buya Datuk disambut oleh kalangan Muhammadiyah di Bukittinggi yang saat itu dipimpin oleh Muhammad Zain Jambek. Maka saat itu pula Buya Datuk pun ditetapkan pula sebagai anggota Muhammadiyah cabang Bukittinggi.
Namun dengan penunjukan beliau sebagai sekjen PERMI yang kegiatannya sarat dengan aneka aktivitas politik, memang telah mejadikan beliau lebih tenggelam dalam aktivitas PERMI. Boleh dikatakan sebagian besar waktu beliau tertumpu untuk PMI, tak ada lagi waktu untuk kegiatan kegiatan Ormas Muhammadiyah. “tapi itu tidak berarti Buya meninggalkan Ormas Muhammadiyah”. Hanya karena sesuai dengan watak Buya dalam perjuangan politik dan pengalaman dalam perjalanan yang selalu bergaul dengan politiklah Buya menghabiskan waktu dan mencurahkan tenaga dalam perjuangan politik. Sampai kinipun Buya masih tetap kader Muhammadiyah dan tak pernah meninggalkan Ormas Muhammadiyah ujar beliau menegaskan. Demikian beliaupun tenggelam dalam pergerakan politik dalam merebut kemerdekaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here