Masjid Inyiak DeEr : Cermin Kehebatan Pemikir Nagari

0
197

Khazanah — Terletak di kampung Sungai Batang, di tepian Danau Maninjau Sumbar, Masjid inyiak DeEr mencerminkan kehebatan generasi sebuah nagari (desa) tempat masjid itu berada. Pasalnya, di sini tidak saja lahir pemikir-pemikir hebat, tapi juga ‘pelabuhan’ pertama bagi Muhammadiyah.

Inyiak DeEr adalah nama tokoh yang sangat berpengaruh dalam gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau pada awal abad 20, sekaligus bapak Muhamadiyah Sumatra Barat. Lewat kepiawaiannya, Muhamadiyah berkembang pesat di Ranah Minang ini.

Pemakaian nama Inyiak DeEr (dari doktor) adalah diambil dari sapaan akrab Dr Haji Karim Amrullah, dimaksudkan untuk mengenang jasa-jasa tokoh yang lahir di Sungai Batang pada 10 Pebruari 1879 dan meninggal di Jakarta 3 Juni 1945. Tokoh yang berhasil merintis Sumatra Thawalib Padangpanjang ini, tidak saja meninggalkan nama besar tapi juga berhasil mendidik anaknya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah, karib dengan sapaan Buya Hamka.

Siapa Inyak DeEr? Paling tidak, seperti dicatat Murni Djamal di Minangkabau, ada lima tokoh kunci paling berpengaruh dalam pembaharuan Islam. Keempatnya adalah Inyiak DeEr, Dr H Abdullah Achmad, Syekh Muhammad Jamil Djambek, dan Syekh Tahir Jalaluddin al- Azhar. Namun, nama yang disebut terakhir tidak terlibat secara langsung. Ia adalah Syekh Muhamad Thaib dari Sungayang. Mereka semua memiliki seorang teman dan guru, karena paling tua, yaitu Syekh Tahir.

Inyiak DeEr juga dikenal sebagai Haji Rasul. Setelah mengecap pendidikan secara tradisional di berbagai tempat di Minangkabau, ia naik haji tahun 1894. Tujuh tahun kemudian ia melanjutkan lagi pendidikannya di kampung halamanya. Tahun 1903, ia kembali lagi ke Makkah dan pulang ke tanah air 1906. Ketika masjid yang kini dinamai dengan nama dirinya terbakar, ia sedang tidak di Minangkabau.

Untuk mendapatkan bekal sebelum ke Makkah, Inyiak DeEr belajar mengaji terlebih dulu kepada Haji Muhammad Salih dan tata bahasa Arab kepada Haji Hud di Tarusan, sebuah nagari di kawasan Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Untuk fikih dan tafsir ia belajar pada ayahnya sendiri, Syekh Muhamad Amrullah, dan Sutan Muhammad Yusuf di Sungai Rotan, Pariaman.
Seorang pejabat Belanda, Ph S van Ronkel, seperti dikutip oleh Murni Djamal dalam bukunya bertajuk ”Dr H Abdul Karim Amrullah; Pengaruhnya dalam Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau pada Awal Abad ke- 20” (INIS-2002), menuliskan: ”Haji Abdullah Ahmad lebih merupakan penulis daripada guru, lebih merupakan Muslim universalis daripada Muslim Melayu. Haji Abdul Karim Amrullah merupakan tokoh paling agresif di antara ulama modernis, yang fanatik dan paling ditakuti para lawannya.”

Inyiak DeEr memang modernis. Dialah yang memodernisir pendidikan Islam di Minangkabau, salah satunya dari sistem kholaqoh ke sistem klasikal yang berkembang sampai sekarang. Sekolahnya, Surau Jembatan Besi, diubah namanya menjadi Sumatra Thawalib. Inilah sekolah yang kelak menjadi ajang percaturan intelektual Islam, pembaharuan, bahkan komunis.

Sukses dengan dunia pendidikan, Inyiak DeEr juga berhasil meluaskan Muhamamdiyah di Minangkabau. Pada awalnya, ia memakai sebuah organisasi di nagarinya bernama Sendi Aman untuk titik tolak. Setelah pertemuan yang intensif dengan tokoh-tokoh Muhamadiyah di Jawa, Inyiak DeEr makin mantap hatinya untuk ikut mendirikan Muhammadiyah di kampung halamannya sendiri. Ia lantas mendirikan sekolah Muhammadiyah awal tahun 1925. Akhir tahun 1925 sekolah itu memiliki murid 250 orang. Inilah untuk pertama kalinya, bendera Muhammadiyah berkibar di Minangkabau.

Setelah di Maninjau, organisasi Muhammadiyah kemudian muncul di Padangpanjang. Sejak itu, ormas Islam ini terus berkembang hingga kemudian muncullah istilah, “Muhamamdiyah dilahirkan di Jogyakarta dan dibesarkan di Minangkabau.”

Tokohnya tidak lain adalah Inyiak DeEr, ayah Buya Hamka. Jika dulu Muhamamdiyah hadir di Maninjau karena peranan Inyiak DeEr dan pedagang-pedagang kain asal Maninjau di Pekalongan, kini masjid itu dipugar, juga berkat bantuan dana dari perantau. Rantau bagi Minangkabau adalah batin yang ditumpangkan di tempat lain.

‘Posko’ Pembaharuan Islam di Minangkabau

Setelah berdiri tegak lebih dari 100 tahun dan menjadi saksi perjuangan tokoh-tokoh Islam Minangkabau, masjid yang berada di tepian Danau Maninjau, Sumatra Barat, ini direhab berat sejak awal 2002 silam. Masjid yang telah menelan biaya perbaikan sekitar Rp 650 juta itu kini tampak lebih megah. Namun, menurut Ketua Dewan Penyantun Pembangunan Masjid Inyiak DeEr, Drs Yusuf Daud Datuk nan Bareno, untuk perbaikan tempat berwudhu, gedung Aisyah dan surau Raudah, masih diperlukan lagi dana Rp 280 juta. Biaya rehab bersumber dari sumbangan perantau setempat.

Masjid Inyiak DeEr, pada waktu diresmikan (kembali), hadir keluarga besar Inyiak DeEr dan sejumlah perantau Sungai Batang, satu di antaranya adalah Rusjdi Hamka, tokoh pers yang juga cucu Inyiak DeEr.

Masjid ini merupakan ‘posko’ Inyiak DeEr dalam melakukan pembaharuan Islam di Minangkabau, sebelum ia pindah ke Padangpanjang. Kapan didirikan? Tak ada yang tahu waktu persisnya. Yang jelas tahun 1901, masjid ini sempat terbakar dan dibangun lagi. Pada awalnya bernama Masjid Jorong Batu Panjang atau Masjid Kampuang Tangah. Dalam perjalanannya, kemudian diganti lagi namanya dengan Masjid Istiqomah. Kini, nama itu diganti lagi dengan nama tokoh paling berpangaruh di sana, Inyiak DeEr.

sumber : republika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here