Buya Amir Syarifuddin : Dima Nagari Ka Salasai, Parewa Nan Diangkek Manjadi Penghulu

0
18

Buya Amir Syarifuddin : Dima Nagari Ka Salasai, Parewa Nan Diangkek Manjadi Penghulu

Khazanah — Buya Amir Syarifuddin lahir di Pakan Sinayan tanggal 9 Mei 1947, sebuah desa kecil yang terletak di bawah kaki Gunung Singgalang. Daerah ini sekarang menjadi bagian dari Kecamatan Banu Hampu Sungai Puar Kabupaten Agam.

Dalam pidato pelantikan ketua MUI tersebut, Buya Amir menyampaikan beberapa kata di antaranya: “Walaupun saya tidak mengharapkan jabatan ini, namun karena sudah dipilih oleh musyawarah, saya terima jabatan ini. Saya tidak berjanji apa-apa dalam jabatan,” kata Buya Amir.

Buya Amir Syarifuddin menjabat Ketum MUI Sumbar selama dua periode tahun 1990-1995 dan tahun 1995-2000.

Ketua MUI:Sumbar ketiga ini berkesempatan mengata-ngatai para ninik mamak. MUI memang secara organisasi dan ulama secara pribadi mendapat tempat tertentu dalam kehidupan adat minangkabau yang dianut sebagian besar masyarakat Sumatra Barat. Alasannya adalah karena ulama itu merupakan salah satu unsur kepemimpinan adat yang disebut tungku tigo sajarangan dan tali tigo sapilin. Yang tiga itu adalah ulama, pemuka adat yang disebut ninik mamak dan cerdik pandai atau cendikiawan, yang biasa diisi oleh unsur pemerintah. Dalam pelaksanaan fungsi adat itu, MUI sering bermitra dengan ketua LKAAM, yang merupakan wadah tempat berhimpunnya pemuka adat yang waktu itu dipimpin oleh Kamardi Rais Dt. P. Simulie. Hampir dalam setiap pertemuan ulama Buya Amir melibatkan ketua LKAAM dan hampir setiap kegiatan pertemuan pemangku adat juga melibatkan beliau sebagai ketua MUI.

Dalam suatu kesempatan musyawarah besar yang digelar LKAAM Buya Amir diminta memberikan sambutan. Pada waktu itu Buya Amir mengenang, “Di sanalah saya berkesempatan mengatai-ngatai para niniak mamak yang terhormat. Dalam salah satu saran, pandangan dan kritikan yang saya sampaikan saya berkata: dima nagari ka salasai, parewa nan diangkek manjadi penghulu (bagaimana negeri akan beres kalau yang diangkat menjadi pemimpinnya adalah preman). Mendengar pernyataan demikian para penghulu niniak mamak yang mendengar tidak berkutik, karena memang di banyak tempat fenomena demikian sudah menjadi kenyataannya. (RI)

Sumber: http://muisumbar.or.id/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here